Saturday, 26 January 2019

Menjadi Jurnalis


Berkesempatan menjadi jurnalis selama 30 hari merupakan salah satu pengalaman yang berkesan bagiku. Mendapatkan berita itu tidak semudah yang kita duga. Berkerjaran dengan waktu dan jarak adalah tantangan yang harus ditaklukkan. Apalagi, dengan karakterku yang pemalu dan introvert cukup menjadi tantangan bagiku. Menjadi seorang jurnalis, kita dituntut untuk cepat beradaptasi dengan medan yang akan dilalui. Kita dituntut untuk aktif guna mendapatkan berita, mendapatkan informasi liputan dan tentunya bersosialisasi dengan rekan sesama jurnalis. Selain itu, sebagai seorang jurnalis kemampuan dalam mengolah sebuah informasi hingga menyajikan sebuah berita yang berimbang dan sesuai dengan fakta juga harus dimiliki. Dan juga kemampuan menulis dibawah tekanan deadline. Namun, menjadi seorang jurnalis semakin membuka mataku akan besarnya kehidupan diluar sana. Menemukan orang-orang yang inspiratif dalam bidangnya dan memberikan pelajaran baru tentang makna kehidupan. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang seringkali keluar ‘sudahkah menjadi manusia hari ini?’, ‘sudahkah kamu membantu orang lain hari ini?’ dan juga pertanyaan-pertanyaan lain yang seringkali bergejolak. Tak lupa, menjadi seorang jurnalis juga menjadikanku lebih bersyukur dan memaknai kehidupan. Kita menjadi tahu bahwa tulisan atau liputan dihari itu hanya satu dari sekian kejadian terliput oleh media, dan yang lainnya kadang masih luput oleh tangkapan media.
Jika ditanya bagaimana melawan kekurangan-kekurangan pada diriku? Jawabannya tentunya sulit. Tapi aku selalu ingat, aku yang memulai dan aku yang memilih. Tentunya aku harus bertanggung jawab dengan pilihan yang aku ambil. Menjadi berani dan percaya diri adalah jawabannya. Awalnya jika aku tidak tahu atau bingung dengan suatu lokasi liputan, aku akan mencari sendiri dengan smartphone, atau hanya bertanya dengan orang yang aku kenal. Akibatnya, otomatis aku harus berangkat jauh lebih awal darijam liputan untuk menyediakan waktu apabila aku kurang tau mengenai medan yang akan dihadapi. Meski faktanya, jika aku bertanya dengan satpam permasalahan tempat selesai. Pengalaman-pengalaman itu yang menjadikan aku berani, berkenalan dengan orang baru, bertanya jika tidak tahu, dan melangkah dengan percaya diri asalkan kita benar dan dijalur yang benar.
Ah sekian pengalamanku menjadi seorang jurnalis, kekurangan bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai kekuatan untuk kita berpijak dan menjadi lebih baik lagi dan lagi.

Berikut adalah beberapa hasil liputanku yang published



Liputan pertama yang published 




Wednesday, 5 December 2018

PRAKTIKUM 09 – Membuat Mock Up untuk Web Project


1.      Judul                            : Membuat Mock Up untuk Web Project   
2.      Tujuan                         : Mahasiswa mampu menentukan mock up berupa tampilan web yang akan dibuat.   
3.      Alat dan Bahan                        :
·         Adobe Illustrator    
4.      Dasar Teori                  :
Web design adalah proses membuat suatu website, ini meliputi beberapa aspek yang berbeda, diantaranya: tata letak halaman website, konten, dan desain grafis. Dalam pendekatan klasik, desain menggambarkan tampilan visual dari sebuah website, sedangkan dalam pendekatan tradisional sebaliknya, mewarnai, keseimbangan, penekanan, irama, gaya elemen grafis (garis, bentk, tekstur, warna daalam dan arah), penggunaan ikon, tekstur latar belakang dan tampilan umum sebuah website secara keseluruhan. [1]
5.      Tugas Praktikum            :Membuat mockup dari web yang akan dibuat.
6.      Hasil Praktikum             :
             
Gambar 1. Tampilan awal 

Gambar 2. Halaman History. 

Gambar 3. Halaman Galery

Gambar 5. Halaman Infographic 

Gambar 6. Footer dan Kontak 


7.      Kesimpulan                    :
            Dalam praktikum ini kami menggunakan adobe illustrator untuk memvisualisasikan web yang akan kami buat dalam project ini. 
8.      Referensi                        :                  :



Saturday, 27 October 2018

Rekomendasi Channel Youtube untuk Menambah Wawasan

Ada yang suka nonton Youtube? Pastinnya suka ya? Youtube sekarang menjadi salah satu media pembelajaran yang keren. Youtube menyediakan berbagai macam jenis konten, dari informasi pendidikan hingga informasi hiburan. Berikut, ada 3 channel Youtube yang harus kalian tonton, dijamin akan menambah wawan kalian.

1. Menjadi manusia
Channel Youtube ini berisi konten-konten tentang jalan fikir manusia dengan membuka dari prespektif-prespektif. Dari channel ini kita akan dibuat untuk lebih menghargai manusia. Konten-konten tentang mental illnes, atau sudut pandangnya juga ada. Semakin membuka cara pandang kita.  Yuk kunjungi, supaya kita nggak merendahkan pengedap mental illnes. 


2. Vibe Indonesia 
Vibe Indonesia channel keren yang berisikan konten liputan-liputan khusus. Salah satu konten favorit, patroli-patroli khusus penyelamat bunuh diri di korea. Tonton yuks 


3. BukaTalks 
Konten yang disediakahn channel Youtube ini hampir mirip dengan TEDx. Menghadirkan tokoh-tokoh inspirasi Indonesia. Wajib tonton, supaya pengetahuan kita tambah banyak. 




Monday, 22 October 2018

Cerpen - Jangan Hakimi Aku

Matanya sulit terpejam. Rasa takut terus merasuki jiwanya. Kilasan-kilasan pembicaraan itu terus menghantuinya. Bahkan jam sudah menunjukkan pukul 2, tapi matanya masih menunjukkan kekuatannya. Ingatannya kembali memutar lagi 
Namanya Alara, katanya dia berandalan tapi sungguh bukan itu maksudnya. Katanya dia bodoh, nyatanya dia emang belum mampu. 
"Jam berapa ini Ra, baru datang aja." Seru teman sekelasnya 
Tanpa jawaban, ia hanya tersenyum masam. 
"Tugasmu sudah selesai Ra? Eh palingan juga belum!." Enek teman yang lain
"Kalian ini jangan begitu dong, eh Ra ini tugasku salin saja." Tambah yang lain sambil melempar bukunya dan dengan tawa mengejek yang kentara. 
Lantas apa yang dia lakukan? Terdiam dan duduk di pojok ruangan. Menanti keajaiban ada yang mau menemaninya. Sungguh kesiangan bukan dirinya, melainkan ia harus mengerjakan pekerjaan rumah dan sungguh ia bingung bagaimana cara mengerjakannya.
Banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benaknya. Ingatannya kembali memutar percakapannya dengan sang Mama 
"Ra, belajar dong. Kamu ini kerjaannya gambar aja. Besok kamu itu ujian. Mama nggak mau ya nilai kamu ada yang merah lagi." Tegur Mamanya 
"Iya Ma." Jawab Lara 
"Iya-iya, contoh itu Kakak kamu, nilainya selalu bagus. Selalu dapat peringkat. Kapan kamu bisa kayak gitu. Kerjaanmu cuma main Adan gambar saja." Tambah mamanya dengan kata-kata sinis. 
Mendengar itu Alara hanya terdiam. Tiada hari tanpa ia dibandingkan. Bukan hanya dengan sang Mama melainkan juga seluruh keluarganya. Bukan, bukan keinginannya menjadi demikian. Ia hanya tak bisa, dalam setiap apa yang ia baca tulisan-tulisan itu terus berputar. 
"Lara, kamu ini bisa berpakaian nggak sih." Tegur sang Nenek 
"Bisa Nek, ini Lara berpakaian." Jawabnya 
"Kamu ini cewek, mbokya pakai gaun gitu. Cewek kok kayak cowok." Sinis sang nenek 
"Ini style Lara Nek." Kalem Lara 
"Style anak jalanan iya. Contoh itu Kakak kamu atau sepupu-sepupumu kamu. Sudah cantik, pinter dandan, cantik lagi. Kamu? Model kok kayak anak urakan. Kemarin Nenek ketemu kamu ya di jalan. Kamu temenan sama siapa itu?" 
"Dia teman-teman Lara Nek, mereka semua baik Nek." Jawab Lara 
"Jangan bikin malu keluarga Lara. Makanya tingkah kamu ini seperti tingkah berandalan, temanmu saja berandalan semua. Pokoknya mulai besok kamu nggak boleh ketemu atau main sama mereka." Cibir sang Nenek sambil pergi meninggalkan Lara. 
Tak ada yang membelanya, tak ada juga yang menguatkannya. Apa yang ia lakukan selalu salah. Tak pernah benar. Nyatanya dia disana bukan karena dia ingin menjadi berandal, melainkan mengajarkan pada anak-anak jalanan tentang cara menggambar dan menyanyi. 
Tak ada yang tau apa yang sebenarnya ia lakukan. Apalagi dengan penyakit disleksia yang ia derita.  Baginya hanya orang yang tak mengenal Lara lah yang memahaminya. Harapannya hanya satu, mereka tau apa yang Kata lakukan sebenarnya tidak salah, melainkan memberikan manfaat bagi orang lain. 
Lara tak butuh pujian, yang ia butuhkan hanya perlakuan yang sama. Lara tak butuh sanjungan, yang ia butuhkan sebait kata positif yang menaikkan energinya. Mungkin tak ada yang tau betapa berat hidupnya, menjadi yang tersisihkan sungguh tak enak. Apalagi tersisih dalam pertemanan, lebih parah lagi keluarga. Stop membuat Alara Alara yang lain, supportlah dan dekap Alara yang lain. Sungguh, dikucilkan sangat menyiksa. Bayangkan saja betapa sakitnya dalam posisi Alara. 

Sunday, 21 October 2018

Cerpen- Ditengah Kebimbangan Dunia Kampus

"ih Ya, mukalo kusut amat." Tegur Lala
"Ngantuk berat gue La." Jawab Yaya sambil meletakkan kepalanya di atas meja
"Yaudah, tidur bentar gih. Masih ada waktu 30 menit sebelum jam masuk." Balas Lala.
"Hm." Enguh Yaya yang sudah ke alam mimpinya.
Tak sampe 30 menit ternyata sang dosen sudah sampe.
"Ya ya ya dosennya datang." Ucap Lala sambil menguncang tumbuh Yaya
"Euh. 5 menit lagi." Jawab Yaya
"Duh Ya, jangan kebo. Bangun Ya." Guncang Lala
"Selamat pagi." Ucap sang dosen.
Dan Yaya masih tetap terlelap, Lala sudah tak bisa berupaya membangunkan Yaya.
"Yaya!" Sang dosen berjalan menghampiri Yaya.
"Bentar La, masih ngantuk." Balas Yaya
"Lala. Kalau masih tidur silahkan keluar dari kelas saya." Tegas sang dosen
Dengan gelagapan Yaya bangun dari tidur nyenyak nya.
"Eh tidak Pak, baik Pak." Jawab Yaya gelagapan
Mendengar jawaban Yaya, sang dosen pun kembali ke depan kelas.
"Baik, pagi ini kita lanjutkan materi yang kemarin. Untuk tugas yang kemarin silahkan kumpulkan di meja saya sekarang." Ucap sang dosen.
"La, ada tugas apa? Kok gue ngga tau." Bisik Yaya
"Tugas yang kemarin Ya, bukannya Lo kemarin udah gue ingetin." Bisik Lala pelan sambil sibuk mengambil tugasnya dalam tas.
"La, gawat. Gue lupa ngga ngerjakane" syok Yaya tertahan
"Aduh Ya, kebangetan banget sih Lo. Ini tugas udah 2 Minggu kali." Balas Lala sedikit jengkel. Lalu satu persatu teman Yaya maju kedepan mengumpulkan tugasnya
"Siapa yang belum mengumpulkan, silakan keluar dari kelas ini." Tegas sang dosen
"Permisi Pak, a apa tidak ada keringanan? Saya benar-benar lupa Pak." Sedih Yaya
"Keringanan yang seperti apa? Silahkan tutup pintu dari luar Ya." Ucap sang dosen tanpa bisa di bantah.
Yaya pun dengan wajah sedih meninggalkan kelas.
Perkenalkan, namanya Yaya. Mahasiswi semester 4 yang lagi aktif-aktifnya ikut organisasi. Tiada hari tanpa rapat. Segudang aktivitas nya yang sangat padat akhir-akhir ini membuat beberapa orang jengah akan tingkahnya. Seperti hari ini.
Kelas pun selesai, Lala yang sebelumnya sudah menanyakan keberadaan Yaya segera menyusul Yaya di kantin.
"Udah segeran Ya?" Tanya Lala
"Nggak tambah seger, tambah suntuk kali." Jawab Yaya keki
"Lo sih, tanggung jawab kali Ya." Pelan Lala
Kemudian mereka pun terdiam dengan fikirannya masing-masing.
"Eh La gimana rapat kemarin? Sukses?" Tanya Lala
Bukannya menjawab, mendengar pertanyaan Lala, ingatan Yaya malah kembali pada malam kemarin.
"ini itu bukan gini, kita nggak bisa pakai cara ini." Eyelnya
"Kalian itu bisa mikir nggak sih?" Seru yang lain
"Kalian ini hidup dalam organisasi, bukan hidup sendiri." Saut salah satu kakak kelas.
"Sudah mahasiswa, kalian harus memikirkan dampaknya juga. Bukan demi satu point, kalian tidak memikirkan efek yang lain." Sela salah seorang dalam ruangan
"Sudah-sudah pembahasan terlalu melenceng. Dan jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Rapat kali ini saya tutup dan dilanjut besok." Putus sang pemimpin.
"Duh Ya, bukannya jawab malah melamun." Tegur Lala
"Hm, seperti yang kemarin-kemarin lah. Nggak ada keputusan. Masih berdebat tanpa ujung." Balas Yaya pelan
"Emang kemarin sampe jam berapa?"
"Jam subuh." Pelan Yaya.
"Ya, kalau boleh gue bilang. Ini bukan Lo banget. Demi ini banyak tanggung jawab Lo yang Lo abaikan. Bahkan tugas kuliah Lo banyak yang keteteran. Lo Ang punya tanggung jawab  disitu. Tapi Lo juga punya  tanggung jawab atas tugas-tugas kuliah Lo. Resapi deh apa yang gue sampaikan. Btw, gue duluan ya, mama minta temenin" Nasihat Yaya sambil berlalu.
Malam pun tiba, hari ini Yaya absen dengan kegiatan rapatnya. Ia masih terus merenungi kata-kata Lala. Dia merasa benar dengan apa yang dikatakan Yaya. Ini seperti bukan dunianya. Terlalu banyak yang berbeda. Dan ia berfikir bahwa terlalu banyak tanggung jawab lain yang ia abaikan. Ditengah perenungannya, hp nya berbunyi
Abang calling
"Assalamualaikum Abang." Bukanya
"Waalaikuksalam adik Abang. Lagi dimana dek?" Tanya Abang Yaya
"Lagi di kos Bang." Balasnya
"Suaramu kenapa dek? Sakit? Dan tumben di kos, nggak ada rapat?"
"Kurang istirahat Bang. Abang nanya apa nyindir" kesal Yaya
Dan suara abangpun terdengar di balik telepon.
"Bang, Yaya bingung...." Pelan Yaya
"Bingung kenapa Ya? Cerita dong sama Abang." Jawab sang kakak. Dan Yaya pun menceritakan apa yang terjadi belakangan ini pada Abangnya.
"Ya, dunia organisasi kadang emang bagai candu. Tapi kamu masih tau batasannya dek. Abang ngga menghakimi kamu mengikuti banyak aktivitas diluar. Seperti pesan Abang diawal. IPK itu 4, 96 nya proses diluar yang membentuk kamu. Kalau kamu begini berati management waktumu dan bentengmu buruk dek" Jawabnya tegas
"Lantas?" Tanyaku ambigu
"Kembali lagi, perkumpulan yang baik ya yang membawa kamu dalam kebaikan. Seperti yang selalu dikatakan Ayah pada kita. Abang mengenal dunia organisasi lebih dulu dari kamu, sejak SMP bahkan Abang sudah terjun didalamnya. Tapi Abang inget lagi. Ketika Abang ambil tanggungjawab itu, tanggungjawab yang lain harus tetap diprioritaskan. Konsekuensi lah dek." Tambahnya
Beberapa saat kami terdiam
"Tanyakan pada dirimu. Sebagai Abang kamu, Abang merasa kamu agak berbeda. Dimana adek Abang yang selalu prioritaskan ibadah, dimana adek Abang yang selalu punya waktu untuk pulang dan ngasih kabar ke Ayah. Dan kemana adik Abang yang selalu fokus serta tanggung jawab sebanyak apapun tugas yang dia emban?" Papar Abang
"Oh iya dek. Kalau bisa pulang, jangan lupa pulang. Ayah kemarin cerita ke Abang, kamu jarang pulang dan kalau di WA balasnya lama banget. Mereka kangen kamu, sesibuk apapun kamu. Orangtua harus tetep prioritas utama. Sudah dulu ya, fikirkan kata-kata Abang. Segera istirahat jangan lupa sholat sama makan. Assalamualaikum." Tutup Abang
Selepas itu, Lala sadar ia salah. Harusnya dia tetap menjalankan semua yang telah ia ambil. Itu konsekuensinya. Tak bisa dielak lagi. Apalagi ibadah, pulang, dan akademik. Ibadah adalah tanggungjawab nya pada Tuhannya, tak seharusnya di abai, apalagi membandingkan dengan urusan dunia. Lantas pulang, ia sadar betapa ia jarang pulang bahkan untuk sekedar vidcall pun sangat jarang, padahal orangtuanya pasti selalu khawatir dengan keadaannya. Dan akademik, tak seharusnya dia berlaku begitu. Adanya dia diorganisasi nya pun karena ia akademik buat menuntut ilmu. Lantas kenapa ia abaikan? Dan dia berfikiran buat apa dipertahankan jika itu tidak membawa kebaikan?

#cerita ini hanya fiktif belaka. Setiap orang pasti punya perspektif sendiri mengenai pandangannya terhadap dunia organisasi. Sekian~~~

Saturday, 20 October 2018

Cerpen- Penyesalan Gya.

Sudah dua hari lamanya dia berdiam diri dalam kamar. Bertemakan sepi dan gelapnya ruangan. Penyesalan selalu datang diakhir, seperti itulah yang dia rasakan. Perkenalkan namanya Gyana, seorang mahasiswi semester akhir disebuah perguruan tinggi bergengsi di kota. Karakternya yang ceplas-ceplos dan sedikit egois utamanya yang sudah menjadi miliknya membuat dia kadang bertindak diluar kendali dan out of control. Seperti yang terjadi padanya 3 hari lalu di kampusnya. 
Flashback 
"Na, tuh Angga lagi sama siapa?" Tanya Tika sahabat Gyana. 
"Gak tau gue. Kan dari tadi gue sama Lo." Jawab Gya. 
"Mau kemana tuh si Angga Na?" Kepo Tika
"Eh eh kita ikutin yuk. Awas aja Angga sampe bermain dibelakang gue." Balas Gya dengan tatapan nyalang pada Angga dan temanya. 
Dengan langkah pasti kedua sahabat itu membututi Angga dan temannya. Mereka berdua melihat dan mengamati apa saja yang Angga lakukan dengan temannya. Mereka terlihat bercanda dan saling melempar candaan satu sama lain, meski ada buku di depannya. 
"Waa gini ya Lo Nga dibelakang gue?" Tanya Gya 
"Loh Gya, sini-sini duduk." Kaget Angga dan mempersilahkan Gya buat duduk dibangku kosong sebelahnya. 
"Siapa Ngga?" Tanya teman Angga 
"Gue Gyana, PACAR ANGGA." Tekan Gyana
"Apa sih Na, jangan gitu deh." Ungkap Angga
"Loh kan emang gue pacar lo kan Ngga. Nggak salah dong gue bilang." Sewot Gyana. 
Sebagai sahabat yang baik Tika pun mengingatkan Gyana untuk bersabar. 
"Sabar Na, jangan gegabah. Tanya baik-baik ke Angga." Bisik Tika pada Gya. 
"Jadi gini Nga yang lo lakuin dibelakang gue? Lo diem-diem bermain di belakang gue?" Bentak Gya pada Angga.
"Aku nggak ngapa-ngapain Na. Kita cuma belajar bareng. Berhubung aku bisa, dia minta bantuan aku buat ngajarin dia." Balas Angga kalem
"Alasan Lo itu basi. Heh Mbak dia itu pacar gue, jangan nyari kesempatan dalam kesempitan dong." Balasnya nyalang 
"Na, sabar Na. Jangan gitu." Usap Tika lembut pada Gyana
"Jangan ikut campur deh Tik, ini masalah gue. Lo diam aja." Bentak Gya pada Tika.
Tika yang sudah paham akan tabiat temennya hanya diam. 
"Enggak Mbak, aku hanya minta bantuan kok ke Angga buat ngajari materi probabilitas. Kita temenan dan ngga ada apa-apa " jawab teman Angga 
"Alasan klasik. Bilang aja kalau Lo suka sama Angga, makanya nyuruh dia buat ngajarin Lo." Sengit Gyana. 
"Gyana, sudah. Apa-apaan sih Lo. Cukup ya. Gue tuh sama dia hanya temenan. Dia temen gue dari SMA. Kalau Lo tau." Ucap Angga 
"Jadi Lo belain dia?" Sendu Anya. 
"Ya gue belain dia. Udah deh Na. Gue bosen dengan sifat Lo yang kayak gini. Lo selalu berfikiran negatif mulu dengan gue. Dan Lo ngga pernah percaya sama gue. Sudah berapa lama sih kita saling kenal" Tanpa menunggu jawaban Gya, Angga menarik temannya dan meninggalkan Gyana yang terdiam. 
Ya dia Angga, sahabat yang jadi pacar Gyana. Sahabat Gyana  dari SMP, dan dua tahun ini status mereka menjadi sepasang kekasih. Meski mereka sahabatan sejak lama, dan sudah tau kekurangan dan kelebihan masing-masing, tapi pertengkaran seringkali terjadi diantara mereka. Apalagi dengan sifat Gyana yang kadang out of control. 
"Udah Nya. Udah jangan nangis." Usap Tika lembut
"Udah Lo bilang udah Tik? Angga tuh kelewatan" Isak Gya 
"Tadi kan gue udah bilang, jangan emosi dulu. Tanya pelan-pelan. Gue yakin Angga ngga kek gitu " balas Tika 
"Ah Lo tuh emang ngga tau, Lo ngga jadi gue. Lo ngga tau apapun emang tentang gue. Lo selalu bela Angga padahal Lo ngga tau Angga. Gue yang lebih kenal Angga." Bentak Gya 
Mendengar kata-kata yang di lontarkan Gya, Tika pun merasa kaget dan sakit hati. 
"Gue sahabat Lo kan Nanti?, Apa keberadaan dan kebersamaan kita ngga berati apa-apa buat Lo? Apakah hanya gue yang menganggap Lo sebagai sahabat gue?" Pelan Tika 
"Ya. Karena Lo ngga berati apa-apa dalam hidup gue. Lo Lo itu hanya tau luaran gue aja." Sengit Gyana 
Tanpa menunggu Gya meninggalkan Tika yang masih diam memikirkan omongan Gya. 
End of Flashback

Bujukan dari orangtua, bahkan Tika dan Angga yang menghampiri Gya, ia abaikan. Gya terlalu takut kalau mereka bakal menghujat tindakan Gya dan lalu meninggalkan persahabatan mereka. Sungguh Gya menyesal dengan perkataan yang ia lontarkan pada Angga dan Tika. Ia lepas kontrol pada saat itu, terlalu takut untuk kehilangan. 
Pada akhirnya, tak tega yang melihat keadaan Gya. Mama dan Papa Gua memutiskan untuk memaksa masuk. 
"Kamu ada masalah sama Angga dan Tika nak?" Tanya sang Mama sambil mengelus puncak kepala Gya. Sedang sang Papa duduk di sebelahnya. Gya pun menceritakan apa yang terjadi antara dia, Angga dan Tika. 
"Nak, kamu tau alasan kenapa Papa dan Mama melarang kalian untuk pacaran?" Tanya Mama Gia
Gya hanya menggeleng pelan. 
"Selama hadirnya kamu, Mama dan Papa menjaga hati kamu supaya tidak tersakiti. Kamu permata hati Mama dan Papa sayang. Kalau kamu tersakiti, Mama dan Papa juga sakit rasanya. Apalagi seperti ini. Kita betul-betul menjaga hati kamu, lantas apa Mama dan Papa rela ngelihat anak Mama dan Papa tersakiti." Ungkap sang Papa 
"Rasa sayang itu perlu nak, tapi kamu juga harus paham bagaimana cara menjaga rasa itu. Dan berfikir dewasa. Menurut kami, kamu belum terlalu dewasa buat mengolah rasa sayang itu. Dan jadinya seperti ini. Kamu masih sering egois dan terbawa emosi semata. Kurang berfikir panjang " lembut sang Mama. 
"Masalah Angga dan Tika, mereka berdua sahabat kamu. Teman yang selalu ada ketika kamu ada masalah. Mereka ada dan tetap bertahan bukan. Lebih harga mereka sayang, papa tau kamu sebenarnya sayang banget sama mereka. Dalam persahabatan itu harus saling percaya dan saling mengerti nak." Tambah Papa 
Mendengar itu Gya terisak, menyesali tindakannya. 
"Jadikan kemarin pelajaran bagi Gya. Mama dan Papa, juga Angga dan Tika selalu disini buat Gya. Kapanpun kamu butuh, kita disini nak. Jangan ulangi tindakan yang kemarin." Senyum sang Mama
"Apalagi sampai ngga makan. Duh nak, parah kamu ini. Nyiksa diri banget. Gih temuin mereka" canda sang papa. 
Dengan senyuman Gya bangkit dari tidurnya dan membuka pintu kamar untuk menemui Angga dan Tika yang menunggu mereka di ruang tamu. 
"Maafin gue ya." Isak Gya pada Angga dan Tika 
"Kita udah maafin lo Na. Maafin kita juga ya Na." Balas mereka sambil meluk Gya

"Kalian ngga akan tinggalin gue kan?" Sendu Gya
"Kalau kita niat ninggalin Lo, udah dari dulu kali Na. Sejak kita tau sifat jelek kali Na." Jawab Angga 
"Bantu gue buat jadi lebih baik lagi ya. Bantu gue buat ngilangin sisi gelap gue." Pinta Gya
"Selalu. Mari kita perbaiki diri dengan saling mengingatkan dan tetap saling menggenggam ya." Jawab Tika
"Oh ya Tik, maafin gue ya. Kemarin gue lepas kontol dan dan sungguh Lo sangat berati dalam kehidupan gue dan tanpa...." 
"Gue tau kok Na, kemarin Lo hanya lepas kontrol. Dan mana mungkin sih gue ngga berati, kan Lo sayang gue." Putus Tika dengan canda .
"Ngga maafin gue juga ya, lebih baik kita sahabatan saja. Kita kita lebih cocok jadi sepasang sahabat. " Tatap Gya pada Angga
"Kalau itu yang terbaik, ngga papa Na. Asal Lo tetep jadi sahabat gue. Dan Lo ngga ada adegan nutup pintu kek kemarin" balas Angga 
"Udah ah mellow nya. Berpelukan" kekeh Tika 
Dan mereka pun berpelukan. Manusia itu, nyatanya tidak dapat hidup sendiri. Perlu orang lain untuk berbagi dan sebagai tempat kita intropeksi diri. Manusia memiliki telinga untuk mendengar, mulut untuk berbicara, dan akal untuk memperbaiki diri serta mempertimbangkan semua yang dilakukan baik telah ataupun akan. Sejatinya manusia tak ada yang sempurna, tetapi selalu intropeksi diri adalah kunci untuk menjadi baik. Dan saling memaafkan adalah salah satu kuncinya. 

Friday, 19 October 2018

Cerpen- Mama tau yang terbaik

Braaak 
"Heh Vio, Lo tuh bisa nggak sih nggak dikamar melulu." Bentak Vika 
"Hm" jawab Vio santai 
"Lo tuh emang anak Mama banget ya Vio. Bebas keluar, nggak ngapa-ngapain, nggak pernah bantu-bantu rumah. Masak nggak bisa, bahkan baju lo semua gue yang urus." Papar Vika dengan nada tinggi. 
"Lo bilang, gue anak Mama. Bukannya Lo ya yang anak Mama. Dari dulu pasti Lo yang diutamain. Apa-apa Vika. Apa-apa Vika. Mama tuh ngga pernah percaya sama Gue." Jawabnya sambil nyalang 
"Lo bilang gue? Kalau Mama sayang sama gue, nggak mungkin tiap hari mama nyuruh gue nyapu, ngepel, masak, belanja. Gue capek Vio tiap hari disuruh-suruh terus." Ungkap Vika sambil menangis. 
"Apa-apa sih kalian ini. Kalian sudah dewasa. Bertengkar terus. Ada apa kalian ini?" Tanya Ivan pada Vika dan Vio. 
"Aku tuh capek Ka masak, bersih-bersih tiap hari. Dari dulu apa-apa gue dan gue terus." Ungkapnya sedih
"Umur kalian berapa sih? Berapa tahun kalian hidup bersama ha?" Tanya Ivan dengan nada tinggi. 
Tanpa mereka sadari sang Mama melihat apa yang dipertengkarkan oleh anak-anaknya. Dan ketika semua menyadari keberadaan sang Mama. Tanpa sepatah kata Mamapun berbalik arah dengan wajah sedih meninggalkan mereka. 
"Argh, ini semua gara-gara kalian." Bentak Ivan sambil keluar mengejar sang mama. 
Perkenalkan, ya mereka adalah Vika, Ivan, dan Vio. Tiga saudara kandung. Ivan si anak pertama, Vika si anak tengah, dan Vio si bungsu. Saat ini Ivan telah tinggal bersama keluarga kecilnya. Sedang si Vika dan si Vio tetap tinggal bersama Mama dan Papa. Antara Vika dan Vio kerap terjadi perdebatan, meski semua pun tau kalau mereka saling menyayangi. 
Setalah Ivan pergi, Vika pun keluar kamar dan mengintip dari ujung tangga apa yang dibicarakan sang kakak dengan sang mama. Diiringi air mata penyesalan yang terus jatuh dari matanya. 
"Vik, ikut kakak keatas. Kekamar Vio." Pintanya pada Vika 
Tanpa berkata apa-apa Vika mengikuti langkah sang kakak. 
"Duduk kalian. Dengerin apa yang mau kakak sampaikan." Pinta Ivan 
"Kalian tahu kan kita ini punya sifat yang beda-beda. Diantara kita bertiga, Vikalah, yang paling rajin dan teliti. Kenapa Mama selalu mau kamu, karena Mama percaya sekesal apapun kamu, pasti kamu bakalan lakuin dan hasilnya memuaskan. Ingat ngga, ketika kamu pergi sama mama. Tiba-tiba Mama nelfon ke kakak sama Vio buat bersihin rumah? Hasilnya malah ngga banget kan." Tuturnya lembut ke Vika. 
"Vio, kamu tuh sebelas duabelas sama kakak. Kamu anaknya nggak betah di rumah. Tapi kamu paling berani buat ngungkapin apa yang ada di pikiran kamu. Inget nggak pas renovasi rumah, yang diajak Mama ke toko bangunan kamu kan. Soalnya Mama tau, kamu pasti jago buat urusan kek gitu." 
"Mama tuh bukan nggak sayang sama kalian. Tetapi, mama tuh tau anak-anaknya gimana. Mama selalu ingin yang terbaik buat kalian." 
Tanpa mereka sadari Mama melihat dari pintu kamar anak-anaknya berpelukan. Dan ketika melihat sang Mama, Vika dan Vio langsung berlari menubruk sang mama. 
"Ma, maafin Vika" ucap Vika dengan sesenggukan
"Maafin Vio juga Ma." Isak Vio
"Kasih sayang Mama kekakuan itu sama besar. Nggak ada yang lebih besar atau yang lebih kecil. Cuma bentuknya yang beda. Karena Mama tau kalian bertiga itu berbeda. Vika ya Vika nggak bisa jadi Vio. Begitupun dengan Vio dan Ivan. Mama sayang kalian permata hati Mama." Ucap sang Mama dengan lembut sambil mengusap lembut kepala Vika dan Vio. 
Mungkin orangtua kita memerlakukan kita berbeda dengan saudara kandung kita yang lain. Tapi bukan berati mereka tidak menyayangi kita. Melainkan karena mereka tau apa yang terbaik buat kita. Dan mereka tau, meskipun kita sekandung, belum tentu kita memiliki karakter dan sifat yang sama. Yuk peluk Mama kita dan ucapkan juga kalau kita sangat menyayangi mereka. 

Terinspirasi dari short movie Betadine. 
https://youtu.be/WiH69kBOwN0