Kesepian,
kesendirian dan rindu yang menyesakkan dada. Pernahkah rasa ini muncul? Sering
ya pastinya. Apalagi momen i ni terjadi ketika kita memiliki atau mengalami
sebuah problematika, mau curhat ke orangtua takutnya membebani dan kalau tidak
curhat ada rasa yang mengganjal dihati. Ada yang sefrekuensi? Ketika di telfon
mau ceriita dari a-z, dan berakhir cerita yang manis-manis ketika mereka
telfon. Menutupi semua hal buruk yang terjadi. Meski nyatanya dan pada akhirnya
mereka akan peka dengan apa yang terjadi pada kita. Haha
Menurutku
merantau bukan hal yang sederhana. Sesederhana fikiranku ketika SMA. Ingin kulliah
di tempat yang jauh, supaya tau rasanya mandiri dan hidup tanpa keprotektifan
orangtua. Merantau ke tempat yang jauh dalam banyanganku dulu adalah hal
terkeran yang bisa dilakkukan. Seolah bakalan tahan dengan rindu yang menghujam
di dada. Nyatanya itu semua ilusi. Juah dari keluarga apalagi orangtua adalah hal
yang paling sulit dijalani. Tapi dari situ kita semakin sadar bukan seberapa
besar arti keberadaan orangtua kita. Semakin lama enggak pulang semakin banyak
rindu yang bertumpukan di dada. Semakin mengingat waktu yang telah kita
habiskan bersama-sama. Rasanya ingin cepat pulang bukan? Tutup mata kalian deh
sekarang, biasanya jam segini pas dirumah ngapain? Bayangin dan resapin. Candaan
dan tawa yang selalu hadir di setiap malam. Kata selamat malam yang terucap
sebagai penutup hari. Pesan-pesan yang selalu disampaikan dan do’a-do’a yang
dilantunkan. Waktu sarapan yang selalu heboh dengan kita yang akan berangkat
sekolah, adek yang rewel dengan persiapannya dan ayah yang selalu menjadi
komandan. Sedang ibu? Sumber dari kekuatan rumah disetiap paginya. Menyiapkan sarapan,
membantu persiapan dan segala cerita indah di pagi hari. Ah tambah kangen rumah
deh!!
Kesendirian
dan kesepian adalah hal yang paling sering ditemui. Apalagi ketika kamar-kamar
sebelah kosong. Seolah hanya sepi yang menemani haha. Dan ujungnya berganti
tangis yang membasahi bantal haha. Rasa sedih pastinya ada bukan? Tapi,
pastinya bertahan adalah salah satu pilihan. Pilihan yang tepat untuk
mendefinisikan arti berjuang. Mandiri adalah sebuah pilihan yang harus dipilih ketika
menjadi anak rantau. Menyelesaikan semua masalah dengan sendiri dan mantap. Menceritakan
pada orangtua adalah hal yang paling sulit dilakukan bukan? Tapi tak jarang
masalah ini pada akhirnya sampai ke telinga mereka. Karena sejatinya sifat
kitalah yang menambah porsi kekhawatiran itu. Haha.
Tanpa
kusadari membiarkan anakmu merantau adalah pilihan tersulit untukmu. Anak yang
kau rawat dan kau besarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang. Seribu kekhawatiranmu
pasti kau tutupi, tak ingin melihat kita berat hati meninggalkan tanah
kelahiran ini. Rasa yang selalu ingin menemani kita, utamanya ketika mendengar
suara yang berbeda dari kita. Entah suara serak ataupun suara flu. Beribu
kekhawatiran tentang makan kita, kesehatan kita dan semua kondisi dan keamanan
kita. Nyatanya, yang dikhawatirin seringnya abai. Bahkan seolah menggapangkan. Ah
maaf L
Hingga
dua tahun aku disini, hanya terimakasih yang bisa kusampaikan pada mereka.
Kepercayaan pada anak yang manja ini, yang apa-apa pasti lapor dan apa-apa
selalu yah. Terimakasih untuk mengizinkanku menjadi anak mandiri. Anak yang
berlatih menjadi dewasa dengan keputusan-keputusan yang dibuat. Tapi kayaknya
kata dewasa dan mandiri masih jauh dari pendeskripsian tentang diriku. Tak ada
ucapan lain selain terima kasih utamanya untuk kepercayaan yang telah kau beri.
Dan saat ini aku menyadari, rumah adalah tempat terbaik dan tempat ternyaman. Rumahku
adalah ketika aku bersama keluargaku.
Maaf-maaf
kalau ada kata atau kesamaan cerita. Atau ada kata yang tidak mengenakkan di
hati. Tulisan ini di tulis sebagai bentuk kerinduan. Kerinduan akan rumah dan
bala-balanya.
0 comments:
Post a Comment