Monday, 30 July 2018

Teruntuk Anak Rantau


Kesepian, kesendirian dan rindu yang menyesakkan dada. Pernahkah rasa ini muncul? Sering ya pastinya. Apalagi momen i ni terjadi ketika kita memiliki atau mengalami sebuah problematika, mau curhat ke orangtua takutnya membebani dan kalau tidak curhat ada rasa yang mengganjal dihati. Ada yang sefrekuensi? Ketika di telfon mau ceriita dari a-z, dan berakhir cerita yang manis-manis ketika mereka telfon. Menutupi semua hal buruk yang terjadi. Meski nyatanya dan pada akhirnya mereka akan peka dengan apa yang terjadi pada kita. Haha
Menurutku merantau bukan hal yang sederhana. Sesederhana fikiranku ketika SMA. Ingin kulliah di tempat yang jauh, supaya tau rasanya mandiri dan hidup tanpa keprotektifan orangtua. Merantau ke tempat yang jauh dalam banyanganku dulu adalah hal terkeran yang bisa dilakkukan. Seolah bakalan tahan dengan rindu yang menghujam di dada. Nyatanya itu semua ilusi. Juah dari keluarga apalagi orangtua adalah hal yang paling sulit dijalani. Tapi dari situ kita semakin sadar bukan seberapa besar arti keberadaan orangtua kita. Semakin lama enggak pulang semakin banyak rindu yang bertumpukan di dada. Semakin mengingat waktu yang telah kita habiskan bersama-sama. Rasanya ingin cepat pulang bukan? Tutup mata kalian deh sekarang, biasanya jam segini pas dirumah ngapain? Bayangin dan resapin. Candaan dan tawa yang selalu hadir di setiap malam. Kata selamat malam yang terucap sebagai penutup hari. Pesan-pesan yang selalu disampaikan dan do’a-do’a yang dilantunkan. Waktu sarapan yang selalu heboh dengan kita yang akan berangkat sekolah, adek yang rewel dengan persiapannya dan ayah yang selalu menjadi komandan. Sedang ibu? Sumber dari kekuatan rumah disetiap paginya. Menyiapkan sarapan, membantu persiapan dan segala cerita indah di pagi hari. Ah tambah kangen rumah deh!!
Kesendirian dan kesepian adalah hal yang paling sering ditemui. Apalagi ketika kamar-kamar sebelah kosong. Seolah hanya sepi yang menemani haha. Dan ujungnya berganti tangis yang membasahi bantal haha. Rasa sedih pastinya ada bukan? Tapi, pastinya bertahan adalah salah satu pilihan. Pilihan yang tepat untuk mendefinisikan arti berjuang. Mandiri adalah sebuah pilihan yang harus dipilih ketika menjadi anak rantau. Menyelesaikan semua masalah dengan sendiri dan mantap. Menceritakan pada orangtua adalah hal yang paling sulit dilakukan bukan? Tapi tak jarang masalah ini pada akhirnya sampai ke telinga mereka. Karena sejatinya sifat kitalah yang menambah porsi kekhawatiran itu. Haha.
Tanpa kusadari membiarkan anakmu merantau adalah pilihan tersulit untukmu. Anak yang kau rawat dan kau besarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang. Seribu kekhawatiranmu pasti kau tutupi, tak ingin melihat kita berat hati meninggalkan tanah kelahiran ini. Rasa yang selalu ingin menemani kita, utamanya ketika mendengar suara yang berbeda dari kita. Entah suara serak ataupun suara flu. Beribu kekhawatiran tentang makan kita, kesehatan kita dan semua kondisi dan keamanan kita. Nyatanya, yang dikhawatirin seringnya abai. Bahkan seolah menggapangkan. Ah maaf L
Hingga dua tahun aku disini, hanya terimakasih yang bisa kusampaikan pada mereka. Kepercayaan pada anak yang manja ini, yang apa-apa pasti lapor dan apa-apa selalu yah. Terimakasih untuk mengizinkanku menjadi anak mandiri. Anak yang berlatih menjadi dewasa dengan keputusan-keputusan yang dibuat. Tapi kayaknya kata dewasa dan mandiri masih jauh dari pendeskripsian tentang diriku. Tak ada ucapan lain selain terima kasih utamanya untuk kepercayaan yang telah kau beri. Dan saat ini aku menyadari, rumah adalah tempat terbaik dan tempat ternyaman. Rumahku adalah ketika aku bersama keluargaku.
Maaf-maaf kalau ada kata atau kesamaan cerita. Atau ada kata yang tidak mengenakkan di hati. Tulisan ini di tulis sebagai bentuk kerinduan. Kerinduan akan rumah dan bala-balanya.


0 comments:

Post a Comment