Friday, 19 October 2018

Cerpen- Mama tau yang terbaik

Braaak 
"Heh Vio, Lo tuh bisa nggak sih nggak dikamar melulu." Bentak Vika 
"Hm" jawab Vio santai 
"Lo tuh emang anak Mama banget ya Vio. Bebas keluar, nggak ngapa-ngapain, nggak pernah bantu-bantu rumah. Masak nggak bisa, bahkan baju lo semua gue yang urus." Papar Vika dengan nada tinggi. 
"Lo bilang, gue anak Mama. Bukannya Lo ya yang anak Mama. Dari dulu pasti Lo yang diutamain. Apa-apa Vika. Apa-apa Vika. Mama tuh ngga pernah percaya sama Gue." Jawabnya sambil nyalang 
"Lo bilang gue? Kalau Mama sayang sama gue, nggak mungkin tiap hari mama nyuruh gue nyapu, ngepel, masak, belanja. Gue capek Vio tiap hari disuruh-suruh terus." Ungkap Vika sambil menangis. 
"Apa-apa sih kalian ini. Kalian sudah dewasa. Bertengkar terus. Ada apa kalian ini?" Tanya Ivan pada Vika dan Vio. 
"Aku tuh capek Ka masak, bersih-bersih tiap hari. Dari dulu apa-apa gue dan gue terus." Ungkapnya sedih
"Umur kalian berapa sih? Berapa tahun kalian hidup bersama ha?" Tanya Ivan dengan nada tinggi. 
Tanpa mereka sadari sang Mama melihat apa yang dipertengkarkan oleh anak-anaknya. Dan ketika semua menyadari keberadaan sang Mama. Tanpa sepatah kata Mamapun berbalik arah dengan wajah sedih meninggalkan mereka. 
"Argh, ini semua gara-gara kalian." Bentak Ivan sambil keluar mengejar sang mama. 
Perkenalkan, ya mereka adalah Vika, Ivan, dan Vio. Tiga saudara kandung. Ivan si anak pertama, Vika si anak tengah, dan Vio si bungsu. Saat ini Ivan telah tinggal bersama keluarga kecilnya. Sedang si Vika dan si Vio tetap tinggal bersama Mama dan Papa. Antara Vika dan Vio kerap terjadi perdebatan, meski semua pun tau kalau mereka saling menyayangi. 
Setalah Ivan pergi, Vika pun keluar kamar dan mengintip dari ujung tangga apa yang dibicarakan sang kakak dengan sang mama. Diiringi air mata penyesalan yang terus jatuh dari matanya. 
"Vik, ikut kakak keatas. Kekamar Vio." Pintanya pada Vika 
Tanpa berkata apa-apa Vika mengikuti langkah sang kakak. 
"Duduk kalian. Dengerin apa yang mau kakak sampaikan." Pinta Ivan 
"Kalian tahu kan kita ini punya sifat yang beda-beda. Diantara kita bertiga, Vikalah, yang paling rajin dan teliti. Kenapa Mama selalu mau kamu, karena Mama percaya sekesal apapun kamu, pasti kamu bakalan lakuin dan hasilnya memuaskan. Ingat ngga, ketika kamu pergi sama mama. Tiba-tiba Mama nelfon ke kakak sama Vio buat bersihin rumah? Hasilnya malah ngga banget kan." Tuturnya lembut ke Vika. 
"Vio, kamu tuh sebelas duabelas sama kakak. Kamu anaknya nggak betah di rumah. Tapi kamu paling berani buat ngungkapin apa yang ada di pikiran kamu. Inget nggak pas renovasi rumah, yang diajak Mama ke toko bangunan kamu kan. Soalnya Mama tau, kamu pasti jago buat urusan kek gitu." 
"Mama tuh bukan nggak sayang sama kalian. Tetapi, mama tuh tau anak-anaknya gimana. Mama selalu ingin yang terbaik buat kalian." 
Tanpa mereka sadari Mama melihat dari pintu kamar anak-anaknya berpelukan. Dan ketika melihat sang Mama, Vika dan Vio langsung berlari menubruk sang mama. 
"Ma, maafin Vika" ucap Vika dengan sesenggukan
"Maafin Vio juga Ma." Isak Vio
"Kasih sayang Mama kekakuan itu sama besar. Nggak ada yang lebih besar atau yang lebih kecil. Cuma bentuknya yang beda. Karena Mama tau kalian bertiga itu berbeda. Vika ya Vika nggak bisa jadi Vio. Begitupun dengan Vio dan Ivan. Mama sayang kalian permata hati Mama." Ucap sang Mama dengan lembut sambil mengusap lembut kepala Vika dan Vio. 
Mungkin orangtua kita memerlakukan kita berbeda dengan saudara kandung kita yang lain. Tapi bukan berati mereka tidak menyayangi kita. Melainkan karena mereka tau apa yang terbaik buat kita. Dan mereka tau, meskipun kita sekandung, belum tentu kita memiliki karakter dan sifat yang sama. Yuk peluk Mama kita dan ucapkan juga kalau kita sangat menyayangi mereka. 

Terinspirasi dari short movie Betadine. 
https://youtu.be/WiH69kBOwN0 

Thursday, 18 October 2018

Cerpen - Itik Buruk Rupa


Selamat siang Tuan menawan
Perkenalkan saya adalah itik buruk rupa
Yang mencintai Tuan tanpa lelah
Yang mengagumi Tuan tanpa batas
Meski saya tau
Saya hanya itik buruk rupa
Yang selalu siap untuk dipatahkan hatinya
Hanya 6 bait, tanpa berniat kumenambahkan lariknya. Perkenalkan namaku Senja, seorang itik buruk rupa yang selalu bermimpi akan terus bersamanya. Iya dia . Sosok rupawan yang menjadi idola disekolahku. Dia bukan sosok sempurna, anaknya ceriwis, tapi itulah daya pikatnya. Tak ada yang tak mengenalnya disekolah. Dari tukang kebun sampai kepala sekolahpun tau siapa dia. Lantas bagaimana dengan aku? Aku adalah itik buruk rupa, punya perawakan yang tak bagus, dan berteman saja adalah sebuah keajaiban. Dan tentunya menjadi bagian dari Rangga seolah mimpi indah buatku.  
Braaakkk...
“Spadaa, Ranganya Senja datang” Ucapnya sambil cengengesan
“Aduh Rangga jangan mulai deh” Jawabku
“Mulai apasih Senjaku, ini tuh bukti sayangku tau” Balasnya
“Serah Rangga saja deh, Btw Ngga aku  hari ini ada latihan. Bukannya aku udah bilang ya sebelumnya?” Tanyaku
“Duh Senjakuh, ngapain sih ikut-ikutan kayak gitu. Pangeran Rangga khawatir tau. Nanti kalau Ayang Senja jatuh gimana?”Ucapnya ngedrama
“Alay deh mulai.” Sensiku.
“Yaudah, aku tunggu di kave depan ya. Semangat latihannya Senjaku. Nanti kalau sudah chat aku ya.” Ucapnya sambil ngeloyor pergi.
Ya, aku itik buruk rupa yang selalu ingin bersama dia. Mencoba menyesuaikan diriku dengannya. Aku tak ingin dia malu, malu jalan denganku. Apalagi aku dengan dia bagaikan bumi dan langit. Aku rela ikut tim cheers supaya Rangga tak malu bersamaku, meski kuakui itu bukan duniaku. Kata Sabrina, sahabatku, aku terlalu memaksa. Menurutku, tak apa, asal aku pantas disampingnya.

Kulangkahkan kai menuju kamar mandi untuk berganti kostum. Segera kuberganti pakaian, karena ku tak mau terkena hukuman. Entah, aku tau banyak yang tak menyukaiku, apalagi setelah Rangga mendeklarasikan dirinya sebagai pacarku. Karena ku tau, siapa yang mau berteman dengan itik buruk rupa ini?
“Loh kok dikunci, yang ada diluar tolong bukaian.” Ucapku sambil mengedor-gedor pintu
“Rasain loh, siapa suruh lo deket-deket sama Rangga” Ucap orang yang sayup-sayup kudengar
Air mataku mulai jatuh, hp yang berada di dalam tas menambah kenahasan yang kualami hari ini. Selang 30 menit penantianku, pertolongan itu datang juga padaku.
Klek....
“Kamu nggak apa kan Nja?” tanya Sabrina dengan raut cemas
“Aku nggak papa Sab, makasih ya.” Ucapku tersenyum
“ini tuh udah kelewatan tau Nja” ucapnya emosi
“sudahlah, eh jangan sampai Rangga tau ya. Yuk ke lapangan, nanti mereka marah lagi.” Paksaku padanya
Dengan lanngkah terburu-buru, aku dan Senja sampai dilapangan.
“Kalian ini niat nggak sih ikut ekskull. Jam berapa ini?” Tanya salah satu seniorku
“emmm ma..af Ka” ucapku terbata
“Kalau ngga niat, ngapain daftar. Udah nggak kompeten, nggak tau aturan lagi. Buat lo Senja, sana lari keliling lapangan 10*” bentaknya padaku.
Hal seperti ini sudah sering terjadi padaku. Sebenarnya, mereka seolah menolak aku bergabung dalam ekskull ini, alasannya kata mereka tubuhku terlalu gendut dan wajahku terlalu pucat untuk menjadi bagian dari ekskull ini. Tapi tidak tau mengapa mereka pada akhirnya menerimaku menjadi bagian dari mereka. Dengan kondisi perut keroncongan, dan puusing yang melanda kupaksakan kaki ini untuk terus berlari. Dan ketika masih keputaran 7 tiba-tiba pandanganku mengabur dan aku tak tau lagi.
Sayup-sayup ku dengar suara orang berdebat
“Kenapa Senja lo suruh lari?”
“Dia terlabat Nga. Lo tahu kan aturannya.”
“Harusnya, lo tuh lihat kondisi dong nggak main nyuruh aja, pokoknya kalau sampe Senja kenapa-kenapa, orang pertama yang bakal gue cari adalah lo. Gue tau sebenarnya apa aja yang lo lakuin ke Senja. Gue pilih diem karena gue nggak mau Senja tambah merasa kurang percaya diri. Tapi tingkah lo makin menjadi, awas lo.”
Dan tiba-tiba pintu terbuka, dan Rangga masuk.
“Kamu nggak papa kan Nja? Masih pusing?” Serunya dengan khawatir
“Aku udah ngga papa kok Ngga.” Ucapku pelan
“Aku antar kerumah sakit yuk, aku khawatir banget tau.” Balasnya
“Aku ngga papa Ngga. Mau pulang aja.” Tutupku
“yaudah, aku gendong ya. Aku ngga menerima penolakan.” Tegasnya.
“Rangga. Cukup, aku ingin berhenti. Terimakasih buat semua.” Ucapku tiba-tiba dan dengan nada bergetar menahan tangis.
Ditengah kekagetannya, ku berlari manjauhi UKS. Mencari kendaraan secepat kilat meski pusing dikepala masih menerpa. Aku kira ini jalan terbaik yang aku pilih. Dan mungkin beginilah akhirnya. Mencintainya memang anugerah. Berada di dekatnya memang seolah mimpi yang tak tertandingi. Tapi, aku rasa masa depanku  masih jauh. Hidupku masih panjang. Ku tau daripada kumeratapi diri yang tak mungkin sejajar denganya, aku memilih prioritas yang lain karena ada mimpi yang ingin aku kejar. Sudah cukup itik buruk rupa ini menanggung rasa ini. Buat apa dipertahankan jika menambah luka. Membangun kembali dirinya, menjadi sosok Senja yang baru adalah pillihan pertama yang aku putuskan.

Selamat malam Tuan rupawan 
Senja telah berganti 
Bolehkah Itik ini meminta izin Tuan? 
Izinkan Itik buruk rupa ini pergi. 
Itik sadar 
Tuan tak mungkin dalam genggaman. 
Tuan bukanlah orang yang tepat. 
Ataukah Itik yang terlalu tak pantas untuk Tuan?. 
Dan Itik berada diujung kelelahan untuk berjuang,
Untuk Tuan, bahagia selalu Itik harapkan untuk Tuan. 


Wednesday, 17 October 2018

Cerpen-Ketika Cinta Dipapas Restu Mama


“Duh Sin, diliatin terus. Nggak bosen apa?” Ucapku pada Sinta
“Duh Nya, lo sih ngga ngalamin jadi gue. Move on itu susah tau.” Ucap Sinta sambil mbrengut.
“Usaha dong Sin, mungkin si Agam emang bukan jodoh lo. Pulang yuk, udah makin malam nih”  Ajakku
“Doakan yang terbaik deh Nya.” Ujarnya sambil berdiri.
Perkenalkan namaku Anya, saat ini gue bekerja menjadi salah satu staff accounting disebuah perusahaan dikotaku. Dan hei perkenalkan sahabatku yang tadi, namanya Sinta. Sosok kalem, sabar, dan asli buaik hati. Ibarat orang bilang paket komplit deh. Tapi, sayang saat ini dia lagi dilanda galau tingkat akhir setelah kisah persahabatan jadi cinta dipupus oleh restu mama si cowok.
Dan perkenalkan juga eks pacar Sinta, namanya Agam, sahabat deket gue juga. Agam ini sosok penyanyang banget, care banget, penyabar, bijak, dan jangan lupakan tubuh proporsional serta kepandaian dia yang mempesona. Tapiii, yang gue sesalkan, nih si Agam keliatan pengecutnya nggak mempertahanin kisah cintanya yang menurut gue mereka adalah pasangan the best. 
“Nya, menurut lo gue itu gimana sih? Sampe mamanya Agam  ngga ngrestuin hubungan gue sama dia?” Tanya Sinta padaku sambil menuju parkir tempat kendaraan kita. FYI, ini pertannyaan kesekian kalinya yang Sinta tanyakan kegue.
“Duh Sin, lo pasti taulah jawaban gue apa. Bahkan orang lain yang ngelihat lo pasti juga mikir sama kek gue” Balasku
“Tapiii....” sedihnya
“Udahlah, move on gitu. Jangan buang waktu lo buat sedih-sedih kek gini. Udah 1 bulan lebih loh. Move on dong.” Balas gue
“Yaaa lo kira move on semudah itu. Do’akan deh, mulai besok gue udah nyiapin planing 1000 cara buat nglupain Agam.” Balasnya dengan senyum palsu.
“Semangat my sista, gue yakin lo bisa.” Tutupku sambil berjalan ke kendaraan masing-masing.
Sesampainnya dirumah, gue langsung rebahan ditempat tidur. Baca wattpad sambil ngedengerin musik. Menurut gue itu tuh surga dunia dan me time terbaik. Yah, sesederhana itu buat merilexskan badan gue. Di tengah kegiatan itu, pikiran tentang alasan Agam ninggalin Sinta berputar-putar diotak gue. Gue kenal Agam bukan sehari dua hari, bahkan gue lebih dulu temenan sama Agam dibanding sama Sinta. That’s why gue nggak percaya kok bisa Agam ngelakuin itu. Dan tanpa sepengatuan si Sinta, gue ngehubungin Agam. Secara, kerena itu hubungan persahabatan antara gue dan Agam juga agak renggang.

Agam kampret (+62853334....)


Gam
Oiii Nya, lama nggak ada kabar lo?


Gue sehat Gam. Ketemuan yok. Ada yang mau gue tanyain.
Ayok, besok di jam makan malam di kafe biasa ya. Ada yang mau gue cerita ke elo juga. Asli suntuk  banget gue.


Okee. Langsung ketemu disana ya



Seperti yang telah gue janjikan sebelumnya, malam ini gue ketemuan sama Agam.
“woy Nya, lama amat nyampennya” Protesnya
“sorry, macet banget kali Gam. Mendung amat muka lo Gam” Seruku
“Yaaa ya ya lo tau lah Nya. Bentar sebelum gue mau ngomong, mending pesen makanan dulu yok!” Serunya sambil manggil pelayan. Sambil makan gue dan Agam cerita-cerita tentang kegiatan kita sehari-hari. Ya meski hubungan gue sama Agam agak rengang, gue akui Agam adalah salah satu sahabat gue yang klop.
“Gam, lo belum jelasin sama gue tentang hubungan lo sama Sinta?” Ucap gue
“....ya lo tau sendiri lah Nya gimana Mama.” Lesunya
“Kenapa lo ngga usaha gitu, lo kan belum nyoba!”Ucap gue tak santai
“Anya, gue kira ini jalan yang terbaik. Cukuplah gue nyobak buat sodorin nama Sinta ke Mama selama 3 tahun ini. Dan hasilnya, gue nggak dapat respond apapun dari Mama.” Tunduknya
“Usaha lebih giat lagi dong Gam, jangan nyerah gitu. Apa cinta lo udah luntur sama Sinta?” Tanyaku retorik
“Ya lo tau sendiri betapa sayang gue sama dia Nya. That’s all cause her. Dengan gue meninggalkan Sinta, gue harap Sinta bakalan bahagia. Gue tau Sinta itu sempurna, mudah buat dia buat nemuin cowok yang pantas dan cocok dengan dia. Dan mama juga bakalan dapat mantu yang sesuai dengan apa yang dia idam-idamkan. Nantinya, kalau gue tetep mempertahanin Sinta dan nentang Mama, yang bahagia cuma gue Nya cuma gue. Mama dan Sinta pasti bakalan kesiksa satu sama lain. Mama dengan kekecewaannya, dan Sinta bakalan ngadepin sikap kekecewaan Mama. Lo paham kan maksud gue” Jelansya
“Dan lo? Dengan kek gitu lo hancurin kebagahian lo sendiri Gam” pungkasku
“ngak apa lah Nya, hati gue nggak masalah. Gue masih bisa ngatur. Yang penting orang yang gue sayang bahagia, itu cukup kok Nya” tepisnya.
Speechless gue dengan jawaban si Agam. Gue nggak nyangka Agam sedewasa itu, dan se bijak itu.  Logis juga jawaban Agam, memukau bahkan. Meski, gue tau Agam melupakan satu hal. Yaa, Agam lupa tentang kuasa Allah. Dia lupa kalau hati manusia mudah dibolak-balikkan. Belum tentu juga dengan jalan yang dia pilih, Sinta atau Mamanya bakalan bahagia atau malah terluka atau bakalan orang lain yang tambah terluka. Atau mungkin nantinya mereka semua bakalan bahagia dengan pilihan itu. Tak ada yang tau juga. Harapan Agam, Sinta dapat move on dengan cepat. Nyatanya, hingga 1 bulan ini Sinta sulit buat move on. Menurut Agam, melepas Sinta, Sinta akan bahagia. Nyatanya Sinta masih terluka. Satu hal juga yang Agam lupa, mengatur hati itu nggak semudah itu. Yeah, tapi gue akui jalan fikiran Agam berbeda.

Tuesday, 16 October 2018

Cerpen-Ternyata Aku Salah?


“Ras, sudah jam 9 nih. Gih pulang, nanti nyokap lo nyariin lagi”
“Bentaran deh, masih sore ini” Jawabku sambil memberenggut.
Tuuut....tuuut
­Mama calling
“Nah loh benerkan apa yang gue bilang, nyokap lo udah telfon tuh” Ucap Tiara sambil diikuti tawa membahana teman-temanku. Tanpa menunggu lebih lama, aku sedikit menjauh dari keberadaan mereka.
Perkenalkan namaku Larasati, biasa dipanggil Laras. Mahasiswi semester akhir disebuah Universitas Negeri di ibukota provinsi tempatku dilahirkan dan dibesarkan. Semenjak kuliah, aku memilih kos karena letak rumahku yang berbeda kota dengan tempatku menuntut ilmu. Menjadi anak kos, bukan berati predikat anak mama bakalan ilang, bahkan julukan itu jadi bualan teman-teman ketika jam-jam malam gini ataubahkan ketika jam-jam makan siang. Bosen? Kadang iya. Kadangtuh rasanya aku  udah dewasa gitu, bukan lagi anak kecil yang apa-apa harus lapor.
“iya Ma” jawabku enggan
“Adek dimana? Sudah pulang kan” Tanya Mama dari ujung telepon
“iyaa-iyaa ini adek pulang”
“segera loh ya, sudah malam ini. Jangan lupa makan, jaga kesehatan”
“hm”
Dengan wajah kesal kuambil tas yang terletak dimeja yang kududuki bersama teman-temanku tadi.
“Guuys, gue pulang dulu ya” pamitku dengan muka keruh
“hahaha, iya cepet pulang sana. Dasar anak mama” Jawab teman-temanku kompak sambil ketawa.
Rasa dongkol diperlakukan seperti itu sering banget hinggap dihati. Keluhan kenapa mamaku tidak seperti mama teman-temanku kadangkala hinggap dan menumbuhkan rasa iri dihati.
Dengan perasaan dongkol kulangkahkan kaki ini menuju Sipaul, motor matic pink yang selalu menemaniku dan mendengar curhatanku. Dan tiba-tiba
“Eh Ras, mau pulang?” Tanya Meisya, teman satu kampus dan satu kosku
“Iya nih Sya, mama udah nelfon melulu” jawabku dengan rengutan.
“Enaknya jadi lo Ras” Ujarnya sambil menatapku sendu
“Enak apanya sih, menyebalkan tauk!” ujarku sewot
“Kalau gue bisa, gue pengen diposisi lo Ras” Tutupnya sebelum meninggalkanku yang terdiam memfikirkan omonngannya.
Sepanjang jalan aku terus memfikirkan apa yang dikatakan Meisya. Apa yang enak jadi anak yang terlalu dioverproctetifin orangtua. Dan menurutku pendapatku enggak salah dan apa yang dikatakan Meisya itu salah karena dia nggak ngerrasain diposisiku.
Malam kiat larut, tetapi mataku sulit terpejam. Kulangkahkan kaki menuju loteng kos, tempat dimana aku sering  menghabiskan waktu sambil melihat keindahan bulan dan bintang. Semakin dekat dengan loteng semakin ku dengar suara isakan tangis tertahan. Nyaliku menciut untuk melangkahkan kaki. Tapi aku yakin itu suara manusia dan cewek.
Nampak dikursi yang memang sudah ada diatas loteng, aku mellihat cewek yang sedang menangis dengan sengukan yang cukup keras dan meremas hati.
“Sya” Tegurku setalah kusadari kalau cewek itu adalah Meisya.
Meisya hanya menoleh sekilas, dan tetap melanjutkan tangisannya
“Lo tau Ras, kenapa gue kepengen diposisi lo?” Tanyanya retorik
Tak menjawab kuhanya diam, duduk disebelahnya dan mengelus punggungnya untuk meredakan tangisnya.
“Gue terlahir dengan keluarga yang menurut orang sempurna, ta..ppiii 12 tahun lalu saat umur gue bahkan masih menginjak usia 10 tahun keluarga yang gue anggap sempurna hancur tak bersisa. Tak ada suara lembut mama yang selalu mengingatkan gue, tak ada lagi tangan lembut papa yang selalu memeluk gue kala gue sedih. Semuanya hilang.” Ceritanya dengan suara sedih.
Tak kuucapkan sepatah kata apapun, yang bisa kulakukan hanya mengelus pundaknya.
“Mereka bertengkar hebat mulai hari itu, tak ada lagi yang ditutupin dari gue. Kata...mereka cerai adalah jalan tebaik buat gue dan mereka. Nyatanya? Lo tau? Dikala mereka seneng dengan keluarga baru mereka, lalu dengan gue? 12 tahun gue hidup dengan rasa trauma yang terus membekas.. SMA gue dibully dan nggak ada tempat buat gue berbagi. Baaahkan taip hari gue baruu bisa tidur jam 3 pagi. Kala gue mau nutup mata, ketakutan, bullyan, cercaan, dan pertengkaran itu terus membayang-bayangi gue. Gue harus apa Ras?” Isaknya semakin dalam.
Tangganku yang awalnya dibahunya kugunakan untuk mengngenggam tangganya, menyalurkan kekuatan untuknya.
Malam itu aku mulai berfikir, betapa beruntungnya aku. Punya mama-papa yang sangat perhatian, punya orangtua yang nggak ngebiarin aku salah arah, punya mereka yang selalu ada dengan jutaan cintanya untukku. Dan mulai malam itu, aku Laras, mulai berjanji dengan diriku sendiri buat selalu dan terus berusaha buat ngga ngebuat orangtuaku terlalu khawatir denganku. Dan mulai menujukkan kasih sayangku pada mereka. Sungguh, betapa baiknya Allah padaku, menghadirkan mereka dalam perjalanan hidupku.
Dan untuk Meisya aku sendiri tak  tau apa yang harus kulakukan untuk membantunya. Hanya do’a dan bahu serta pelukan buat mendengar keluh kesahnya yang bisa kusediakan untuknya. Dan mulai malam itu, aku mendeklarasikan diriku sebagai sahabat Meisya. Sosok yang membantuku membuka mata dan menyadarkanku untuk lebih bersyukur memiliki mereka (orangtua) dalam hidupku.



Friday, 28 September 2018

Kuliah Sambil Kerja? Bisa Nggak Ya?


Pernah nggak sih terfikir buat kalian para mahasiswa atau mahasiswi buat kuliah sambil bekerja? Mungkin bayangan di benak kalian sangat ingin ya buat kuliah sambil bekerja? Teatpi kdang hal itu hanya menjadi angan-angan semata bukan? Kuliah sambil bekerja menurutku adalah hal yang sangat sulit, dimana kita dituntut menyelesaikan antara kuliah dengan pekerjaan dengan kualitas yang tentunya baik semua. Setiap orang tentunya berbeda, ada yang bisa multitasking dan ada yang tidak bisa multitasking. Tapi kembali lagi pada bagaimana cara kita mengatur dan menjalaninya.
Kali ini aku mau membagikan cerita atau pengalaman temanku yang kuliah dan mengembangkan bisnisnya juga.
Namanya Fahmi Risal atau biasa dipanggil Fahmi. Fahmi ini merupakan salah satu anak yang kuliah sambil bekerja. Dalm hal ini, Fahmi memiliki bisnis jasa untuk pembuatan desain. Clientnya sudah bermacam-ragam, mulai dari usaha baru hingga usaha yang sudah tumbuh besar. Tapi tentunya di balik semua itu pasti ada perjuangannya bukan?
Motivasi Fahmi sendiri dalam bekerja sambil kuliah adalah orangtua. “Keadaan ekonomi keluargalah yang menuntut saya untuk terus berusaha. Saya harus berusaha untuk minimalnya mampu menghidupi diri saya sendiri” Ungkapnya.
Menjalani bisnis dan kuliah tentunya bukan hal yang mudah untuk dijalani. Dibutuhkan semangat yang tinggi, kesungguhan dan konsistensi. Keinginan unntuk menyerah bahkan sering terjadi dalam diri Fahmi, namun jika hal itu terjadi dia selalu mengingat kembali motivasinya untuk berbisnis. “Pernah kejadian bisnis saya direndahkan, dan saya memilih diam sambil berusaha sekuat tenaga untuk membuktikan bahwa ini lo bisnis saya” Ungkapnya.
Selain itu dalam perjalanannya juga tidak selalu berjalan dengan mulus. Deadline tugas kuliah dan deadline client seringkali datang bersamaan. Tentunya hal ini prioritaslah yang membantu Fahmi. Dalam hal ini prioritas Fahmi adalah Bisnisnya, sehingga client selalu didahulukan. Tetapi Fahmi juga menekan dirinya untuk kuliah dengan syarat nilai indeks prestasinya tetap dalam koridor aman. “Di jam-jam pergantian kuliah dan jam kosong saya lebih sering buat mengerjakan pesanan client”
Menurut Fahmi sendiri kuliah dengan bisnis sangat menguntungkan, meski banyak hal yang perlu dikorbankan dan diperjuangkan. Relasi, skill dan link adalah salah tiga manfaat dari kuliah sambil bekerja. Di tempat kuliah pun menjadikan salah satu tempat untuk Fahmi menemukan partner yang tepat dalam mengembangkan bisnis yang telah ia rintis sejak lulus dari SMK. Selain itu menurutnya hal yang pertama yang bakal dilihat oleh client adalah pendidikan dari owner bisnis tersebut. Sehingga, apapun bisnisnya kuliah sangat diperlukan.
Fahmi menyarankan kepada semua mahasiswa atau mahasiswi untuk berbisnis selagi masih kuliah. Banyak manfaat yang didapatkan, meski banyak tantangan. “Apapun bisnisnya cobalah, kita dalam bisnis itu bosnya. Manfaatnya banyak banget, paling dominan kemampuan managerial kita” Ungkapnya. Tetapi kembali lagi semua yang membutuhkan perjuangan tentunya akan berbuah manis. Jadi tetap semangat untuk kalian-kalian yang sedang kuliah sambil bekerja, dan untuk kalian yang fokus kuliah jangan main-main dengan kesempatan yang datang pada kalian.

Monday, 24 September 2018

PKM-Ajang Pamer Kreativitas Mahasiswa


Selamat siang guys, lama ya tak bersua.Kali ini  aku mau menulis tentang pengalaman PKM.  Ada yang tau PKM itu apa?
Sebenarnya ini bukan tentang pengalamanku, tetapi pengalaman temanku yang lolos PIMNAS 2 kali berturut-turut. Tahun lalu PIMNAS diselenggarakan di Makasar tepatnya di Universitas Muslim Indonesia, dan tahun ini diselenggarakan di Univertas Negeri Yogyakarta.
Cekidot pengalaman dari temenku.
Namanya Nur Rohma Wulandari, dia sekarang menginjak semester 5 di salah satu Politeknik Negeri di Surabaya. Wulan atau biasa di panggil telah mengikuti ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional sebanyak 2 kali. Pada tahun pertama, Wulan lolos mengikuti PIMNAS yang diselenggarakan di UMI, bersama 4 orang anggota timnya Wulan berangkat ke Makasar.
Pada tahun kedua di bangku perkuliahan, Wulan bersama 2 anggota timnya lolos lagi dalam PIMNAS 2018 yang diadakan di Universitas Negeri Yogyakarta. Di  tahun ini juga, Wulan bersama timnya mendapatkan satu medali emas dalam bidang presentasi dan satu medali perungu dalam bidang poster.
Menurut Wulan PIMNAS merukapan ajang yang sangat menyennangkan, banyak manfaat yang di dapat dari mengikuti PIMNAS. “Bertemu mahasiswa dari seluruh Indonesia, kemuudia kita harus bekerjasama dengan dosen untuk memberikan yang terbaik bagi kampus. Selain itu, kita bisa mengenal lebih dekat dan berjuang bersama-sama dengan teman satu kampus yang bahkan awalnya kita nggak kenal.”
Menjadi perwakilan kampus tentunya merupakan salah satu moment  yang sangat membanggakan, dan tentunya kita semua mengakuinya. Namun, tentunya menjadi bagian dari PIMNAS diperlukan perrjuangan ekstra. Tidak mungkin dengan leha-leha bisa membanggakan kampus. Ups
Wulan memaparkan hal-hal yang sangat perlu diperhatikan ketika mengikuti PIMNAS selain ide yang keren tentunya penulisan proposal, penulisan laporan dan penulisan karya ilmiah harus benar-benar di perhatikan. Selain itu mewujudkan ide yang awalnya dalam benttuk proposal menjadi suatu alat (dalam hal ini Wulan masuk dalam kategori KC) tentunya di butuhkan juga perjuangan yang ekstra. Revisi dari dosen pembimbing PKM tentunya menjadi santapan sehari-hari setelah proposal dinyatakan lolos dalam pendanaan.
Tentunya perjuangan itu sangan berimbang ketika bisa menjadi bagian dari event besar PIMNAS. Sangat terbayarkan. “Tentunya sangat terbayarkan perjangannya, saat hari H banyak banget hal yang baru dan tentunya menambah pengalaman baru buat saya” Papar Wulan
Banyak cerita-cerita lucu yang terjadi setelah PIMNAS dalam hal ini setelah pengumuman “Satu hari setelah pengumuman, merupakan moment dimana kita diajak liburan haha” Wulan menceritakan dalam liburan ini, dia diajak untuk mengunjungi tempat-tempat pariwisata di daerah sekitar PIMNAS dan juga mendapatkan teman beda jurusan. Pengalaman seru dan unik selama mengunjungi  tempat wisata adalah moment yang membahagiakan. “Menyenangkan banget, apalagi ini liburan gratis. Ke Makasar dan ke Yogyakarta.” Ucapnya sambil tersenyum.
Sebagai salah satu mahasiswa yang mengikuti PIMNAS, tentunya Wulan berharap agar semua mahasiswa mau dan niat untuk mengajukan idenya yang dikepala dan diwujudkan dalam proposal untuk diajukan dalam PKM. Dengan manfaat yang didapatkan tenntunya perjuangan yang dilakukan sangat  terbayarkan.

Tuesday, 11 September 2018

Tentang Mimpi


Pernahkah merasa capek dengan sejuta mimpi kalian? atau pernah kecewa ketika mimpi itu melesat, melesat menjauh  bukan melesat tuk terwujud? Atau kalian dalam satu titik jenuh dan bingung tentang apa yang harus dilakukan ketika mimpi-mimpi itu sudah berhasil kalian dapatkan?
Mimpi adalah sebuah harapan. Secercah jalan yang menerangi kita untuk selalu berjuang. Meski kadang mimpi tak selalu tercapai dan dipupus oleh angan. Tapi bolehkah kita menyerah? Mungkin ketika kita menyerah, kita terlalu hopeless dengan kekuatan Allah. Atau mungkin kita pada tiitik lelah, lelah untuk berjuang. Tapi, ingat kembali yang memperjuangkan satu mimpi bukan hanya kita sendiri melainkan orang-orang yang bahkan tak kita kenal sekalipun.
Ah memang mudah berbicara, dan praktiknya tentunya tak seindah sebaik kata yang keluar dari mulut. 
Pernahkah kita merasa bosan dengan apa yang kita jalani? Bingung dengan tujuan apa lagi yang hendak kita capai ketika mimpi-mimpi dan harapan sudah digemgaman tangan. Cobalah untuk keluar, membantu mewujudkan ribuan mimpi orang lain, laksana orang lain yang tak mengenalmu membantu dalam mewujudkan mimpimu.
Keluuarlah dan bersyukurlah. Satu hal, kenikmatan yang tak terkira itu ketika kita bisa membuat orang lain tersenyum lepas dengan apa yang kita lakukan. Dengan hal  yang bermanfaat tentunya.